MENENGOK FILOSOFI RUMAH JOGLO

Saya yakin sebagian besar orang Jawa pasti sudah tahu apa yang disebut rumah Joglo. Rumah tradisional ini sekarang ini masih banyak dijumpai di berbagai tempat, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bentuknya yang antik dan menarik membuat banyak orang masih melestarikan model rumah tradisional ini.

Saat ini pemilik rumah joglo didominasi oleh orang-orang dari kalangan yang mampu secara finansial. Biaya pembangunannya yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan bangunan biasa, membuat tidak semua orang mampu mendirikan rumah joglo.

Rumah Joglo mempunyai bagian ruang yang terbagi menjadi 3 bagian. Masing-maisng mempunyai nilai filosofi yang tinggi maknanya. Ruang tersebut yakni pendhapa, ruang tengah atau ruang pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau ruang keluarga.

Setiap ruangan tersebut memiliki perbedaan nilai dan terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya. Seperti ruang bagian depan bersifat umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).

Pendopo
Pendopo letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau terbuka, hal ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah, terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu. Pada jaman dulu, pendopo tidak di beri meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa akrab rukun (rukun agawe santosa).

Pringgitan
Menurut Rahmanu Widayat (2004: 5), pringgitan adalah ruang antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk pertunjukan wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala ).

Dalem (Ruang Utama)
Dalem atau ruang utama dari rumah joglo ini merupakan ruang pribadi pemilik rumah. Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Pada masa dulu, kamar atau senthong hanya dibuat tiga kamar saja, dan peruntukkan kamar inipun otomatis hanya menjadi tiga yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki kamar kedua kosong namun tetap diisi tempat tidur atau amben lengkap dengan perlengkapan tidur, dan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan.

Kamar yang kedua atau yang tengah biasa disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka. Krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi penghuninya.Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna gaib serta padi hasil panen pertama.

Di dalam rumah tradisi Jawa bangsawan Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan benda-benda lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti lambang kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga.